The fact in fiction -Part 1

Published April 13, 2014 by Syrenka Licorice

“When the morning comes and the sun begins to rise, I will lose you because it’s just a dream. “–Pooh

Dia begitu indah. Tidak ada kata bosan dalam kamusku saat aku memandangnya.

Dia adalah bidadariku. Pernah menjadi bidadariku. Kurutuki kebodohanku. Penyesalan yang akan kunikmati seumur hidupku. Karena kesalahan yang tak termaafkan dan tak dapat ku perbaiki aku kehilangan dirinya. Ingin kumenangis dan membunuh diriku tapi apapun yang kulakukan, aku tak mungkin bisa memilikinya lagi. Karena dia sudah membenciku. Aku hanya bisa tersenyum pahit pada kenyataan itu.

“Joongie!” Teriak seseorang menyadarkanku dari lamunan penyesalan tak berujung di kepalaku. Bidadariku Kim Jaejoong, namja berparas malaikat bahkan tak ada yeoja yang bisa menandinginya, menoleh dan tersenyum manis pada namja imut yang memanggilnya.
“Su ie.” Lihatlah bahkan suarany lebih indah dan lembut di telinga siapapun. Wajar saja banyak namja maupub yeoja yang begitu gigih ingin memilikinya.
“Joongie, kau sedang apa disini?  Tidak pergi dengan Siwon hyung?” Tanya Junsu begitu tiba di samping Jaejoong. Perlu kalian tahu, Siwon atau Choi Siwon adalah namja yang kini dekat dengan bidadariku. Rasanya aku ingin membunuh bahkan memutilasinya jika aku bisa. Karena bahkab saat Jaejoong masih berstatus kekasihku Siwon tidak pernah gentar untuk mendekatinya. Sampai-sampai kami hampir berkelahi setiap bertemu. Jika bukan karena Jaejoong aku mungkin sudah membunuhnya sejak dahulu. Kembali ke percakapan Jaejoong dengan Junsu.

“Ani.” Jaejoong menggeleng. “Siwonnie sedang sibuk. Dia harus meeting dengan beberapa orang.” Siwonnie? Cih.
Junsu hanya menganggukkan kepalanya pelan. “Joongie…” junsu terlihat ragu sesaat. Namun dia berusaha meyakinkan dirinya untuk mengatakannya meski terlihat jelaa keraguan dimatanya. “Joongie… mengenai Yunho hyung..”
Mengenai aku? Junsu..
Senyum lembut di wajah Jaejoong tiba-tiba memudar. Matanya terlihat dingin. “Junsu! Aku tak mau membicarakan hal itu! Apalagi tentang dirinya!”
Dia bangkit dari duduknya dan beranjak dengan tergesa-gesa meninggalkan Junsu begitu saja.
“Joongie.. tapi kau harus mendengarkan aku dulu..” Junsu berlari mengejar Jaejoong dan mencekal tangannya ketika berhasil mengejarnya. “Kau harus tau yang terjadi padanya sebelum kau menyesal!”

Jaejoong memandang Junsu dengan tatapan yang menusuk dan pandangan yang terluka. Matanya berkaca-kaca saat kilasan-kilasan kejadian yang begitu menyakitkan kembali di ingatannya. Tidakkah Junsu mengerti seberapa terluka dirinya karena perbuatan Yunho?
“Menyesal kau bilang, Su ei?. Ya! Aku sangat menyesal karena mengenalnya dan mencintainya!!” Dengan sekali hentakan Jaejoong melepaskan cekalan Junsu yang berlari meninggalkan Junsu yang hanya bisa memandang kepergian Jaejoong dengan sedih. Tak tahu  berapa lama lagi dia harus menunggumu, Joongie? Waktumu mungkin tak banyak. Lirihnya seraya menyeka air matanya.

Aku hanya bisa tersenyum miris mendengar semuanya. Ternyata bidadariku begitu membenciku. Dia bahkan menyesal mencintaiku. Aku benar-benar pria bodoh. Ku hampiri Junsu yang masih berdiri mematung. Ku tepuk bahunya perlahan. “Terima kasih Su ei” lirihku.

Beberapa hari ini kulihat senyuman indah bidadariku tak pernah lepas dari bibir cherry miliknya. Bahkan saat memasak di dapur pun senandung kecil sering kali terdengar indah. Dan semua itu pun berkat namja yang paling ku benci Choi Siwon.
Sudah beberapa kali mereka berkencan di depan mataku. Bahkan bidadariku sering mengantarkan bekal makan siang ke perusahaan namja bejat itu. Melihat hal itu sangatlah menyakitkan bagiku. Namun aku tak sanggup melakukan apapun. Rasanya sungguh miris melihatnya melakukan hal itu demi namja lain. Ingatanku pun melayang saat ia biasanya melakukan itu semua pada saat kami bersama. Selalu membuatkan bekal dengan dalih masalah lambungku yang lemah atau karena aku terlalu workaholic sehingga selalu lupa makan dan hal lainnya. Oh boo. Aku sangat merindukanmu.

Aku terdiam di kamarnya yang perpaduan pink dan baby blue. Dia terlalu manis dan feminim untuk ukuran namja. Kau sangat manis baby.
Ku edarkan pandanganku keseluruh sudut kamarnya yang menguarkan aroma vanila lembut. Tak terlihat satupun foto kami. Dulu di meja nakas sebelah tempat tidur terdapat foto kami. Foto yang kuambil saat merayakan anniversary kami ke 2 di paris. Saat kami makan malam di salah satu restoran di sana aku meminta ke salah seorang pelayan untuk memoto kami. Aku memeluk erat dirinya kami sama-sama tertawa bahagia saat itu. Foto yang sangat manis dan penuh cinta. Bahkan Jaejoong pun memaksaku untuk mamajang foto yang sama di kamar tidurku. Tapi kini foto itu tidak ada. Tak ada satupun fotoku di kamarnya. Tampaknya Jaejoongku sudah benar-benar melupakannya.

Suara pintu kamar terbuka membuyarkan lamunanku. Muncullah sosok bidadari cantikku yang tengah tersenyum manis memandang buket bunga mawar merah di pelukkannya. Tampaknya dia belum menyadari keberadaanku.
“Boo…” panggilku lembut. Ku putuskan untuk mememberitahukannya keberadaanku di hadapannya.

Seketika tubuhnya menegang begitu mendengar suaraku. Dia mengangkat kepalanya dan memperlihatkan doe eyesnya yang membulat sempurna saat melihatku. Dengan cepat dia berhasil menguasai dirinya dan memasang wajah dingin dan datarnya.
“Apa maumu tuan Jung?”

Aku hanya tersenyum miris. Tidak ada lagi Yunnie kah boo?
Apa kita bisa bicara boo? Duduklah disini?” Ku tepuk lembut sisi tempat tidurnya di sebelahku.

“Katakan apa yang ingin kau katakan lalu pergilah dari hadapanku.” Balasnya dingin tanpa beranjak dari posisinya di dekat pintu.

Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum miris dan memaklumi sikapnya. Kau pasti benar-benar membenciku sekarang boo? Tak ada kah kesempatan kedua untukku? Aku benar-benar  mencintaimu boo.
“Aku sangat mencintaimu boo. Hingga saat ini pun masih mencintaimu. Maafkan aku boo. Aku sangat bodoh saat itu. Aku pikir saat kau tak ada di sisiku aku akan baik-baik saja. Tapi ternyata aku salah boo. Tanpamu, aku merasa kosong dan lemah. Aku salah boo. Hanya kau yang bisa melengkapiku, melengkapi hidupku, mengisi kekosongan diriku. Aku mencintaimu boo. Hanya dirimu. Tak ada yang lain. Kumohon maafkan aku boo. Kumohon berikanlah kesempatan kedua untuk kita boo.” Ucapku melepaskan kegalauan hatiku. Kuungkapkan semuanya tanpa yang kututupi lagi. Keinginan yang telah lama kupendam akhirnya kuungkapkan juga. Kutatap wajahnya yang terlihat datar yang membalas tatapanku. Tak bisa kubaca emosi didirinya. Apa jawaban yang akan di berikannya?

“Jangan bercanda tuan Jung! Kau pikir dengan semua kata-katamu aku akan dengan mudahnya menerimamu kembali?” Kulihat perlahan-lahan cairan bening itu mulai memenuhi kedua bola mata indahnya. Kemudian cairan itu mulai menetes menuruni pipi mulusnya. Sungguh demi apapun aku tak pernah menginginkan dia menangis apalagi gara-gara aku. “Kau pikir aku akan dengan sangat mudahnya memaafkan segala perbuatanmu hanya dengan kata maaf dari mulut manismu hah?! Kau salah tuan Jung. Aku bukan Jaejoong yang lemah dan bisa kau bujuk dengan mudahnya!”
Dihapuskannya air mata itu dengan kasar. Kemudian dia menarik nafas dalam-dalam. Sepertinya dia benar-benar ingin menenangkan dirinya. Bidadariku memang benci jika dilihat lemah. Kau tak pernah berubah boo.

Setelah dirasa cukup tenang. Dia menoleh dan kembali menatapku tajam. “Aku sudah mengubur rasa cintaku padamu tuan Jung. Dan aku rasa dirimu pun sudah melakukannya sejak lama” di pandangnya aku dengan jijik. Oh boo. Itu sangat menyakitkan kau tahu? “Aku sudah melupakanmu dan menguburmu sebagai masa laluku. Jadi kau tak perlu meminta maaf lagi padaku. Tapi satu hal yang perlu kau tahu Aku membencimu tuan Jung. Dan yang perlu kau lakukan enyahlah dari hadapanku sekarang dan selamanya.”

Seketika juga tubuhku membeku dan jantungku berhenti berdetak. Tanpa kusadari air mataku menetes. Haruskah aku benar-benar menyerah padamu boo?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: